Cerpen: Ellen Febry
Apakah matahari selalu bersinar karena titah Tuhannya? Apakah hujan selalu turun karena Tuhan mengguyurkannya dari langit? Apakah angin selalu bertiup karena nafas Tuhan yang menghembus ke bumi? Tidakkah mungkin matahari bersinar karena ketidakkuasaannya menanggung panas yang membakar dirinya, sehingga ia membaginya pada bumi? Dan hujan yang turun dari langit karena kerinduannya bertemu air sungai? Atau angin yang bertiup karena sepi membuatnya ingin mencumbu dedaunan?
Apakah kematian itu? Ia selalu tidak nyaman jika aku bertanya tentang kematian.
“Bukan untuk dibincangkan” katanya.
“Tapi suatu saat kita pasti mati” sanggahku.
“Sudahlah. Sebaiknya lekas kau habiskan makananmu dan cepat berkemas. Kita harus segera menuju bandara. Kau tidak ingin ketinggalan pesawat bukan?”
Selalu. Ia pasti mengalihkan pembicaraan jika kutanya tentang kematian. Apakah kematian memang tak pantas dijadikan obrolan meja makan? Apakah kematian selalu membuat orang ketakutan sehingga tak mau meskipun hanya sekedar memperbincangkan?
“Kenapa kau selalu bertanya tentang kematian?” tanyanya suatu ketika.
“Karena belum ada satu orangpun yang kutanya memberiku jawaban” jawabku.
“Apa kau pernah bertanya kepada orang yang sudah merasakannya?”
“Itu mustahil. Mana ada orang mati bisa bicara?”
Ia tersenyum. “Jadi apa kesimpulannya?”
Aku terdiam. Dan ia selalu bisa memberiku jawaban cerdas lewat sebuah pertanyaan.
***


